Hakekat Besmah dan Diwe Tige

Banyak teori tentang asal muasal kata besmah, banyak sejarahwan atau mereka yang mengaku sebagai sejarahwan menulis sejarah tentang asal muasal tanah besmah atau jagad besmah.

Mulai dari yang populer berasal dari kata ikan semah, sampai ke hikayat sungai yang ditimbang beratnya yang dinamakan sungai bersama (ayek besemah).

Berikut ini dipaparkan artikel mengenai asal muasal penamaan tanah besmah dan hakikat Diwe Tige menurut persepsi pewaris sejarah besmah yang seperti yang dinyatakan dalam Yayasan Besmah Sakti dan diposting dibeberapa grup di facebook group.

(Alif) = diri sendiri (Zat)
(Allah) = diri terdiri (Sifat)
(Bismillah) = diri tajjali (Asma)
(Ha) = diri terperi (Af’al)
(Alif) = Zat (Diri Sendiri)
(Alif, Lam, lam Ha) = Sifat (Diri Terdiri)
(Alif, Ba, Sin, Mim, {Alif, Lam, Lam) Ha = Asma (Diri Tajjali)
(Alif, Ba, Sin, Mim Ha) =  Af’al (Diri Terperi) Besmah
(Alif, Lam, Lam) = Rohani bagi Besmah
(Ha) atau Hajarul Aswad adalah sebagai wadah untuk menyatakan kenyataan

Kupasan Umum

Alif adalah simbol ketika Zat yang Maha masih Sendiri dengan Zatnya, kemudian Dia menciptakan mahluk untuk mengenalNYA sehingga ada sebutan ALLAH dan juga menunjukan Sifat-sifatNYA. Kemudian sifat-sifat itu mengungkapkan nama dan keberadaanNYA. Sifat dan keberadaan ini kemudian dinyatakan dalam perbuatanNYA.

Kaitan dengan Asal Nama Besmah

Alif adalah menyatakan asal muasal kejadian tanah besmah yang berasal dari kenyataan Qudrat dan Iradat dari Sang Maha Kuasa sebagai sumber segala sesuatu.

Alif Lam Lam Ha menyatakan kehendak dan Hukum-hukum Allah (Qudrat dan Iradat) adalah sebagai jalan untuk mengenal dan mengetahui asal muasal kejadian dan tempat kembalinya segala sesuatu.

Alif Ba Sin Mim (Alif Lam Lam) Ha adalah wadah yang menunjukkan dan menyatakan kebenaran-kebenaran hukum-hukum Allah sebagai Qudrat dan Iradat yang dijembatani oleh Orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan menyatakan kebenaran dan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan dan Hadits Qudsi.

Alif Ba Sin Mim Ha Menunjukkan kenyataan Nama yang menyatakan kebenaran hukum-hukum Allah dalam Qudrat dan Iradat dengan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi.

Alif Lam Lam adalah menyatakan Kenyataan Qudrat dan Iradat Allah pada orang-orang yang menjembatani untuk menyatakan kebenaran dan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi.

Ha adalah kenyataan tempat menyatakan kebesaran dari kenyataan Qudrat dan Iradat dan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi.

Alif Ba Sin Min Ha adalah huruf yang yang menjadi bacaan dan sebab  timbulnya nama Besmah, Arti dari Besmah adalah suatu daerah yang mempunyai Nama (ber-Asma).

Alif, lam, lam mengghaibkan diri menjadi Ruhani bagi besmah menaungi dan  akan menunjukkan kenyataan dari Besmah kepada orang-orang yang dijembatani untuk menyatakan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi. Alif lam lam inilah dalam keberadaan nya di tanah Besmah disimbolkan dan disebut Diwe Tige.

Inilah hakikat asal muasal nama Besmah dan kenyataan Diwe Tige dalam Khazanah tanah besmah. Seperti bacaan pada Bismillah maka bacaan Ba Sin Mim Dan Ha dibaca Besmah (Bismi) dan bukan Besemah (Bisimi).

DIWE TIGE

Yang disebut Diwe Tige dalam Khazanah besmah sebagi pengejawantahan simbol Alif Lam Lam adalah :

  1. Semidang Gumay
    Bernama Ali Arhan dan bergelar Semidang Gumay.Berawal dari Kitab yang Awal (Taurat) yang kemudian menuntut peng-awalan tersebut maka Semidang Gumay menindak lanjuti keyakinan tersebut hingga ke Besmah Sakti.Hukum Syariat yang ada disebutkan dalam Al-Quran adalah dari Bapak Segala Umat (Nabi Ibrahim As), Hukum Hakikat yang ditemukan beliau sebagai Wali ke satu (yang pertama) di zaman Iman Tauhid Makrifat (dengan Kehendak Allah sendiri melalui Tajridul Qulbi Hidayatullah) dengan candi (tanda) 50 kalimah tauhid (berlambangkan rantai 50 leku)
    Sesuai dengan lambang :

    • Sebuah pusake yang beradaptasi kepada laa ilaha ilallah (syahadat kalimat tauhid) hukumnyasyuhudul wahda fi wahda (Dari Yang Satu kembali kepada Yang Satu
    • Rantai daripada terjemah Allah yang berbicara sejuta bahasa (sejuta makna)
    • Rantai ketiga berjumlah 74 buku bermaknakan “Diantara 73 kaum hanya satu yang sekedudukan dengan aku (kamu) inilah makna dari Qudrat itu sendiri. Qudrat artinye kuase/berkehendak. Inilah Lam pertama, Dinyatakan sebagai Al Haqq (Kebenaran)
  2. Atung Bungsu
    Bernama Syech Nurdin dan bergelar Atung Bungsu.Berdasarkan dari Kitab Al- Qur’an dengan kata penyempurna 16 Qoidul Iman berlambangkan satu hukumnya dua dan dua hukumnya satu, yaitu hukum syar’i dan hukum hakikat untuk menyatakan kebesaranNYA.Wali kesatu dihukum syar-i dikenal sebagai walikutub dan wali kesatu dihukum hakikat  adalah sebagai pewaris.Dengan lambang :

    • Dua Alif disatukan ke-akbaran-nya
    • Sebilah keris bermate due :
      • satu lanang dengan lafaz kalimah laa ilaha ilallah (syahadat tauhid)
      • satu perempuan dengan lafaz kalimah muhammad rasulullah (syahadat rasul)

    Itulah Lam kedue. Tatkala Lam kesatu berkehendak, Lam kedue menyatakannye (Al Akbar)

  3. Semidang Sakti
    Bernama Ahmad  Furqon bergelar Semidang Sakti.Dari kitab yang kedue (Zabur). Di hukum syariat diwarisi oleh Semidang sakti dengan nama Al Mukmin dan dihukum hakikat Rajenyawe dengan simbol Ruhil qudus/ Batu Lancang Putih.
    Berlambangkan :

    • Sebilah keris kumbang tutup. Sebagai kenyataan dua (2) hukumnya satu (1)
    • Hitam sebagai tanda kegigihan
    • Putih sebagai tanda kesucian.

    Tatkala kedua lambang tersebut menyatu, inilah yang bernama/disebut lancang putih (Rohil Qudus).

    Tafsir Hitam : Gigih mencari tau dengan keberanian untuk menggapai Rohil Qudus tersebut.
    Artinya, Roh Jasmani berbadan kepada Rohani, Rohani berbadan kepada Rohil Qudus, Rohil qudus berbadan kepada Nur Muhammad.

    Di dalamnya berduduk yang Qodim disaksikan oleh Zat Allah, Sifat Allah, Asma Allah Tentang yang Qodim itu sendiri, dengan bunyinya :
    satu hukumnya dua dengan kata awalan kesatu.

    Zat hilang dalam Nur >> Zat Nur hilang dalan Sifat (disebut alam kudus (alif lam roh)) >> Sifat hilang dalam Asma >> Maka timbulah Perbuatan

Pengejawantahan 3 batu betangkup di tebat besak (pantai) Alif Lam Mim dalam air, bila telah melalui perjalanan sesuai ketentuan Allah melalui Hajarul Aswad barulah nyata kebesaranNYA.

Alif Lam Roh pada yang Qodim,  ALif Lam Mim pada yang baharu baru nyata kenyataan melaluihajarul aswad (HA)

Inilah yang disebut Diwe Tige  yaitu Semidang Gumay, Atung Bungsu dan Semidang Sakti atau Al Haqq, Al Akbar dan Al Mukmin.

Peradaban tiga (3) hukumnya satu (1), satu (1) hukum nya tiga (3) adalah Untuk menyatakan kesatuan Al Akbar, Al Haqq dan Al Mukmin berlambangkan 50 kaidul iman (Kalimah Tauhid) dan 16 Kaidah Rasul (Kalimah Rasul)  yang dinyatakan dengan Dua Kalimah Syahadat.

Nama Al Haqq, Al Akbar dan AL Mukmin adalah nama-nama yang tercantum di dalam Asmaul Husna (Nama-nama Allah Yang Indah).

Nama-nama tersebut melekat pada mereka yang disebut Diwe Tige di tanah Besmah bukanlah dengan maksud menyatakan mereka sebagai Tuhan (Nauzubillahi min zalik), namun mereka adalah Orang-orang yang diamanati oleh Allah untuk menjaga Nama-nama Allah atas kehendak  dan ketentuan Allah sendiri. Sesuai dengan sebutan mereka di besmah Puyang.

Pu dari mpu = orang yang Ahlinya
Hyang = Yang Maha (Tuhan)
Puyang = mpuhyang = orang yang ahli ketuhanan (Ahli Ketuhanan)

ARRAHMAN DAN ARRAHIM

Arrahman adalah kenyatataan diri penyampai. Dalam makna di Besmah adalah Penyampai rahasia Zat Allah ta’ala yang dalam hal ini adalah roh yang dimakbulkan permintaannya untuk nyata kedunia setelah dari zat yang mewujudkan RohilQudus. Lingkup Arrahman ini ada pada laki-laki.

Arrahim adalah diri yang menampung rahasia zat Allah yang disampaikan Arrahman (Rohil Kuddus) dan memberi tahta di tempat yang telah ditentukan oleh Zat hingga masa mengeluarkan rahasia Zat (Roh) menjadi Nyata  (berjasad) Lingkup Arrahim ini ada pada diri perempuan (Arrahim). Namun Adapula kejadian yang dengan atas kehendak Yang Maha Kuasa (Allah Ta’ala) maka Rohilqudus ini langsung ditiupkan kedalam Arrahim.

Dari pemahaman tentang kenyataan penyampai dan penampung (Arrahman Dan Arrahim) rahasia zat Allah inilah yang menjadi jalan untuk menyatakan rahasia zat Allah (Alif lam lam ha) dan kenyataan kebesaran itu (Alif Kaf Ba Roh = Akbar).

Munculnya kenyataan kebesaran (Al Akbar) inilah yang dinyatakan dengan Sakti di tanah Besmah. Sehingga sesuatu itu dikatakan sakti adalah apabila berkata ada bukti dan kenyataaannya.

Sehingga bila digandengkan dengan nama besmah sakti adalah Suatu tempat yang dengan kenyataan Asma ang menjadi wadah bila mana berkata haruslah ada bukti dan kenyataannya.

Namun besmah sakti tidak akan ada tanpa pengenalan akan yang disebut diwe tige sebagai ruhani dari besmah yang menjadikan besmah menjadi sakti.

Susunannya adalah besmah (diwetige) sakti yang bila diharfiahkan bacaannya suatu tempat yang atas asmaNya dan orang-orang yang menjembatani untuk menyatakan kebenaran dan kenyataan firman dan haditsyang bilamana berkata ada bukti dan kenyataannya.

Ketika kesatuan itu diringkas dalam bentuk huruf maka bunyinya adalah Bismillahirahmannirahim. Demikianlah kenyataan dan pengejawantahan dari besmah sakti dan diwetige.

Besmah Sakti adalah kenyataan dari Ama dan Af’al
Diwe Tige adalah kenyataan dari Zat dan Sifat

Perlambangan kenyataan  Besmah sakti dan Diwe Tige ini adalah pernyataan Tanah Besmah akan dua Kalimah Syahadat,  yaitu :

  • Besmah Sakti adalah perlambangan dari Muhammadarasulullah
  • Diwe Tige adalah perlambangan dari Laa ila ha ilallah

Besmah sakti disimbolkan dengan tongkat, yaitu sebagai sarana untuk berjalan menuju jalan yang lurus dan diwe tige disimbolkan kepada rantai 50 leku (kesatuan dari 50 Aqoidul Iman).

Pengungkapan kenyataan besmah sakti dan diwe tige adalah pengungkapan kenyataan Bismillahirahmannirahimm  sehingga nyatalah Alif Lam Lam Ha Allif Kaf Ba Roh  (AllahuAkbar).

Kenyataan Besmah Sakti dan Diwe tige yang merupakan penggambaran dari pembuktian kenyataan hukum-hukum Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits inilah yang menaungi kenyataan tanah nusantara umumnya dan tanah besmah umumnya.

Wilayah Tanah Besmah adalah Tanah yang dinaungi oleh Lampik Empat Merdike Due (Akan dibahas nantinya), sedang wilayah dari yang disebut Besmah Sakti adalah seluruh wilayah yang dinaungi oleh hukum-hukum Allah dengan kenyataannya.

Pertanyaanya, Dimanakah di dunia ini wilayah yang tidak dinaungi oleh hukum-hukum Allah dan kenyataannya? Jawabnya adalah TIDAK ADA.

  • Alif Lam Lam Ha
    Adalah Kenyatan tenyang kenyataan diri terdiri yang menyatakan kehendak dan hukum-hukum Allah (Qudrat dan Iradat) sebagai jalan dan wadah untuk mengenal dan mengetahui asal muasal kejadian dan tempat kembalinya segala sesuatu.
  • Alif Kaf Ba Roh
    Adalah kenyataan Alif Lam Lam Ha menyatakan zat dan sifatnya (Qudrat dan Iradat)  dengan jalan asma (rohilqudus) kepada yang baharu (af’al) dan Kenyataannya. Atau kenyataan jalal, jamal, kamal dan kohar melalui  ruh yang siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Tinjauan Sejarah

Ketika penyatuan awal akan kenyataan dari Besmah Sakti dan Diwe Tige (Bismillahirahmannirahimm) menyatakan kenyataan AllahuAkbar adalah kejadian silam/ sirnanya dua kerajaan yang besar di nusantara yaitu kerajan Sriwijaya dan kerajaan Padjajaran.

Penyilaman ini bukan hanya dengan maksud menghilangkan kedua kerajaan besar tersebut, akan tetapi dengan suatu rencana pengungkapan kenyataan kebesaran dan kemahaan Alah Ta’ala yang memang tealah termaktub dalam janji Allah tentang yang menyatakan kebenaran Firman dan Hikmah yang tertulis (Al-qur’an dan Hadits) dan kenyataannya di tanah besmah pada khususnya dan Besmah Sakti pada umumnya.

Kenyataan penyilaman ini akan diungkap dan dibuktikan kenyatannya sesuai dengan kata di besmah : ade kan tiade, tiade kan ade ( ada menjadi tiada, tiada kan menjadi ada). Kapankah saat itu ?

Saatnya adalah ketika kenyataan besmah sakti dan diwe tige diungkapkan atas kehendak Allah sendiri melalui orang yang di beri petunjuk maka saat itulah ALLAHUAKBAR.

Kenyataan Arrahman dan Arrahim sebagai penyampai dan penampung rahasia dari zat Allah sehingga menyatakan Allahuakbar ini ditanah Besmah dikenal atau dinyatakan dengan :

  • Arrahman
    Dinyatakan sebagai akhiran kewalian dari Almukmin disimbolkan sebagai bungsu dari Puyang Awak yang berduduk di telaga Alkautsar yang menghimpun Ghumbak  tige serumpun (Rambut tiga serumpun).Yang dimaksud dengan Ghumbak tige serumpun inil adalah kenyatan tempat keluar masuknya Zat, Sifat dan Asma pad Af’al.Atau dengan istilah Besmah Cugung Empu Luang Sembilan. Kenyataan itu adalah Manusia dengan ubun-ubun diatasnya (cugung Empu) dan sembilan lubang ditubuhnya (luang sembilan).Pengenalan tentang jalan masuk dan jalan keluar inilah yang disebut dengan Titik Ba yang dalam hikayat walisongo di cari oleh Sunan Kalijaga untuk mendapatkan Makrifatullah.

    Dimanakah Rahasia titik Ba itu? tanyakan kepada Penjaga air Fatih yang bermuara di telaga Al-Kautsar.
    Siapakah penjaga air Fatih yang di besmah disebut ayek Fateh ?

    Beliau bernama Kriye Bungsu, pengikut Setia dari Puyang Diwe Atung Bungsu. Kriye Bungsu ini di tanah jawa dikenal dengan sebutan Syech Malaya.

  • Arrahim
    Dinyatakan dengan simbol wanita yang menguasai lautan.Karena laut adalah tempat penampungan terbesar dari aliran air, semua aliran air pastilah bermuara dilautan.Dikenal dengan sebutan Ratu Laut, yang bertugas menampung dan mengeluarkan (melahirkan) kenyataan itu.Di tanah Besmah laut disimbolkan dengn nama Tebat besak dan dinamakan Laut Alam Danau Bhiute dan biasa di sebut Pantai. Ratu Laut inilah yang di tanah jawa Disebut Ratu Kidul.

Kenyataan Rahman dan Arrahim sebagai pengejawantahan nama yang menunjukan sifat inilah yang akan menunjukkan Akbar atau melahirkan Kebesaran yang dalam tatanan ilmu Ketuhanan disebut sebagai Insan kamil.

Jadi yang mendapat bimbingan dari perpaduan Arrahman (Kriye Bungsu/Syech Malaya) dan Arrahim (Ratu Laut/Ratu Kidul) akan menghasilkan kenyataan tentang Kebesaran atau dengan kata lain, bimbingan dari ilmu kenyataan Allah pada para Rasul dan Nabi disebut Wahyu atau ilham pada era setelah Muhammad SAW.

Sementara kebesaran dinyatakan dengan perlambangan mahkota. Inilah yang disebut dengan istilah Wahyu Mahkota.

Pemegegang Wahyu Mahkota ini mengemban amanah menyatakan kenyatan dan kebesaran Allah (Allahuakbar) di muka bumi ini.

Dengan berkalungkan Rantai 50 Leku sebagai tanda memahami ketauhidan dan Berjalan di jalan yang lurus dengan Tongkat sebagai tanda Kaidah Kerasulan. Hingga sampailah kepada kenyataan Semua berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.

Itulah kenyataan tentang apa yang Disebut dengan besmah Sakti dan Diwe tige sehingga tidak boleh dipisahkan, bermula dari zaman 4000 SM hingga sekarang ini. Berawal dari Taurat, kemudian Zabur yang disempurnakan dengan Al-Qur’an.

Kenyataan ini hanya bisa diungkapkan dan dinyatakan oleh mereka yang mengetahui ilmu ketuhanan yaitu ilmu-ilmu yang Haqq dari sisi Allah atas Qudrat dan Iradat dari Allah Ta’ala sendiri dengan bimbingan dari para wali-wali Allah sendiri.

Kenyataan pengungkapan ini tidak boleh dilakukan dan diungkapkan secara sembarang melainkan harus dengan tahapan-tahapan yang ditentukan dan dikehendaki oleh mereka yang membimbing agar tidak merusak makna dan maksud yang diinginkan untuk disampaikan,

Tidak diperbolehkan mendahulukan yang kemudian dan mengkemudiankan yang terdahulu. Jika itu dilakukan maka akan merusak makna dan hilanglah bacaan yang dimaksud. Maka jahillah kita sebagai orang yang tidak memegang amanah.

Kenyataan Pengungkapan Ini kan menyatakan kenyataan Al-Qur’an dan Hadits yang berawal dari umul Kitab (Al-Fatihah).

Kenyataan ini akan menunjukkan kesaksian dari Alam Qodim  (Batu Sumpahan) hingga kenyataan keberadaan insan di muka bumi (Rajenyawe/ puyang Awak di batu Lancang Putih) hingga kenyataan masuk dan keluarnyanya zat, sifat dan asma (ghumbak tige serumpun) di ubun-ubun sebagai Puncak Cugung Empu Luang Sembilan (jasad manusia)

Dan bila kita rangkaikan kalimah Bismillahirahmanirrahim dengan Allahuakbar  maka itulah yang dalam tatanan Ilmu Ketuhanan Disebut Insan Kamil Mukamil (sempurna lagi disempurnakan).

Kenyataan dan tahapan-tahapan inilah yang akan bersama-sama kita ungkap dan nyatakan dengan bukti-buktinya sehingga nyatalah kebenaran itu. Sebagai awalan kita berjalan kita kalungkan rantai 50 leku (50 Aqoidul iman) dan kita pegang tongkat (16 kalimah rasul) sebagai pegangan di jalan menuju Kenyataan  (Tajjali) Firman dan Hadist atau Kenyataan kebesaran Allah itu sendiri.

Dengan  kata lain kita nyatakan perjalanan ini dengan :

  • Bermula dari Laa ilaha ilallah
  • Berjalan dengan Muhammadarasulullah laa haula wala quwata ilaa billah
  • Berakhir dengan Inalillahi wa ina ilaihi rojiun

 

Sumber: Yayasan Besmah Sakti (Agustian)

About the author

Dedi Suryawardana Just an ordinary people from Jagad Besmah. Currently work on a Tropical Palm Oil Mill at Kalimantan Barat (West Borneo) as Electrical Supervisor.

Tag:

  • diri terperi
  • puyang gumay
  • diwe gumay
  • alif lam lam ha
  • hakikat alif
  • Asal semidang gumay
  • makna afal dan sifat asma dan zat

Comments

  1. yusti Opera Mini says:

    sebetulnya arti semidang itu apa? mertua beri nama anak saya ada nama semidangnya.mertua asal lahat,dan nama belakangnya gumay.
    tolong pnjelasannya,suka bingung kalo org tanya nama anak sy.pasti tanya semidang artinya apa

    • Dedi Opera Mini says:

      Kalau arti yang sebenarnya saya sendiri belum tahu. Tapi ada yang berpendapat kalau dilihat dari akar kata, semidang itu berasal dari kata midang yang artinnya melakukan perjalanan.

      Makna perjalanan ini bisa berarti secara harfiah melakukan perjalanan dari suatu daerah ke daerah lain, tapi bisa juga berarti perjalanan hakiki seorang hamba menuju tuhannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>